TUGAS KELOMPOK
TAREKAT MU’TABARAH DAN TOKOH-TOKOHNYA

Disusun Oleh
1. Rita Mardianti
2. Vani Rahayu
3. Rizal Effendi
MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 METRO(MAN 1 )
TAHUN 2011
TAREKAH MU’TABARAH DI INDONESIA
mencapai Ridlo Allah. Dengan pengertian ini bisa digambarkan,
adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi menyatakan, Aturuk
biadadi anfasil mahluk, yang artinya jalan menuju Allah itu sebanyak nafasnya
mahluk, aneka ragam dan bermacam macam. Kendati demikian orang yang hendak
menempuh jalan itu haruslah berhati hati, karena dinyatakan pula, Faminha
Mardudah waminha maqbulah, yang artinya dari sekian banyak jalan itu, ada yang
sah dan ada yang tidak sah, ada yang diterima dan ada yang tidak diterima. Yang
dalam istilah ahli Thoriqoh lazim dikenal dengan ungkapan, Mu’tabaroh. Wa
ghoiru Mu’tabaroh.
KH.
Dzikron Abdullah menjelaskan, awalnya Thoriqoh itu dari Nabi yang menerima
wahyu dari Allah, melalui malaikat Jibril. Jadi, semua Thoriqoh yang Mu’tabaroh
itu, sanad(silsilah)-nya muttashil (bersambung) sampai kepada Nabi. Kalau suatu
Thoriqoh sanadnya tidak muttashil sampai kepada Nabi bisa disebut Thoriqoh Dalam
tasawwuf seringkali dikenal istilah Thoriqoh, yang berarti jalan, yakni jalan
untuk tidak (ghoiru) Mu’tabaroh. Barometer lain untuk menentukan
ke-mu’tabaroh-an suatu Thoriqoh adalah pelaksanaan syari’at.
Dalam
semua Thoriqoh Mu’tabaroh syariat dilaksanakan secara benar dan ketat.
Diantara Thoriqoh Muktabaroh itu adalah :
Diantara Thoriqoh Muktabaroh itu adalah :
Thoriqoh Syathariyah
pertama kali digagas oleh Abdullah Syathar (w.1429 M). Thoriqoh Syathariyah
berkembang luas ke Tanah Suci (Mekah dan Medinah) dibawa oleh Syekh Ahmad
Al-Qusyasi (w.1661/1082) dan Syekh Ibrahim al-Kurani (w.1689/1101). Dan dua
ulama ini diteruskan oleh Syekh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili ke Nusantara, kemudian
dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhan al-Din ke Minangkabau. Thoriqoh
Syathariyah sesudah Syekh Burhan al-Din, berkembang pada 4 (empat) kelompok,
yaitu; Pertama silsilah yang diterima dari Imam Maulana. Kedua, silsilah yang
dibuat oleh Tuan Kuning Syahril Lutan Tanjung Medan Ulakan. Ketiga, silsilah
yang diterima oleh Tuanku Ali Bakri di Sikabu Ulakan. Keempat; silsilah oleh
Tuanku Kuning Zubir yang ditulis dalam Kitabnya yang berjudul Syifa’ al-Qulub.
Thoriqoh ini berkembang di Minangkabau dan sekitarnya. Untuk mendukung
ke1embagaan Thoriqoh, kaum Syathariyah membuat lembaga formal berupa organisasi
sosial keagamaan Jama’ah Syathariyah Sumatera Barat, dengan cabang dan
ranting-ranting di seluruh alam Minangkabau, bahkan di propinsi-tetangga Riau
dan jambi. Bukti kuat dan kokohnya kelembagaan Thoriqoh Syathariyah dapat
ditemukan wujudnya pada kegiatan ziarah bersama ke makam Syekh Burhan al-Din
Ulakan.
Sementara Thoriqoh Naqsyabandiyah masuk ke Nusantara dan
Minangkabau pada tahun 1850. Thoriqoh Naqsyabandiyah sudah masuk ke Minangkabau
sejak abad ke 17, pintu masuknya me1alui daerah Pesisir Pariaman, kemudian
terus ke Agam dan Limapuluh kota. Thoriqoh Naqsyabandiyah diperkenalkan ke
wilayah ini pada paruh pertama abad ketujuh belas oleh Jamal al-Din, seorang Minangkabau
yang mula-mula belajar di Pasai sebelum dia melanjukan ke Bayt al-Faqih, Aden,
Haramain, Mesir dan India. Naqsyabandiyah merupakan salah satu Thoriqoh sufi
yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim
serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara
pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga
dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru
dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi
Mujaddidi Alfi Tsani (Pembaru Milenium kedua, w. 1624). Pada akhir abad ke-18,
nama ini hampir sinonim dengan Thoriqoh tersebut di seluruh Asia Selatan,
wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari
Thoriqoh Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan
dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih
mengutamakan berdzikir dalam hati (Sirri). Penyebaran Thoriqoh Naqsyabandiyah
Khalidiyah ditunjang oleh ulama ulama Minangkabau yang menuntut ilmu di Mekah
dan Medinah, mereka mendapat bai’ah dari Syekh Jabal Qubays di Mekah dan Syekh
Muhammad Ridwan di Medinah. Misalnya, Syekh Abdurrahman di Batu Hampar
Payakumbuh (w. 1899 M), Syekh Ibrahim Kumpulan Lubuk Sikaping, Syekh Khatib Ali
Padang (w. 1936), dan Syekh Muhammad Sai’d Bonjol. Mereka adalah ulama besar
dan berpengaruh pada zamannya serta mempunyai anak murid mencapai ratusan ribu,
yang kemudian turut menyebarkan Thoriqoh ini ke daerah asal masing masing Di
Jawa Tengah Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyyah disebarkan oleh KH. Abdul Hadi
Girikusumo Mranggen yang kemudian menyebar ke Popongan Klaten, KH. Arwani Amin
Kudus, KH. Abdullah Salam Kajen Margoyoso Pati, KH. Hafidh Rembang. Dari dari tangan
mereka yang penuh berkah, pengikut Thoriqoh ini berkembang menjadi ratusan
ribu. Ajaran dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah pada umumnya mengacu kepada empat
aspek pokok yaitu: syari’at, thariqat, hakikat dan ma’rifat. Ajaran Thoriqoh
Naqsyabandiyah ini pada prinsipnya adalah cara-cara atau jalan yang harus
dilakukan oleh seseorang yang ingin merasakan nikmatnya dekat dengan Allah.
Ajaran yang nampak ke permukaan dan memiliki tata aturan adalah khalwat atau
suluk. Khalwat ialah mengasingkan diri dari keramaian atau ke tempat yang
terpencil, guna melakukan zikir dibawah bimbingan seorang Syekh atau
khalifahnya, selama waktu 10 hari atau 20 hari dan sempurnanya adalah 40 hari.
Tata cara khalwat ditentukan oleh syekh antara lain; tidak boleh makan daging,
ini berlaku setelah melewati masa suluk 20 hari. Begitu juga dilarang bergaul
dengan suami atau istri; makan dan minumnya diatur sedemikian rupa, kalau
mungkin sesedikit mungkin. Waktu dan semua pikirannya sepenuhnya diarahkan
untuk berpikir yang telah ditentukan oleh syekh atau khalifah..
Thariqat Ahmadiyah didirikan
oleh Ahmad ibn ‘Aly (al-Husainy al-Badawy). Diantara nama-nama gelaran yang
telah diberikan kepada beliau ialah Syihabuddin, al-Aqthab, Abu al-Fityah,
Syaikh al-‘Arab dan al-Quthab an-Nabawy. Malah, asy-Syaikh Ahmad al-Badawy
telah diberikan nama gelar (laqab) yang banyak, sampai dua puluh sembilan nama.
Al-Ghautha al-Kabir, al-Quthab al-Syahir, Shahibul-Barakat wal-Karamat,
asy-Syaikh Ahmad al-Badawy adalah seorang lelaki keturunan Rasulullah SallAllahu
‘alaihi wa sallam, melalui Sayidina al-Husain. Sholawat Badawiyah sughro dan
Kubro, adalah sholawat yang amat dikenal masarakat Indonesia, dinisbatkan
kepada waliyullah Sayid Ahmad Badawi ini, akan tetapi Tarekat badawiyah sendiri
tidak berkembang secara luas di indonesia khususnya di Jawa.
Abul Hasan Ali asy-Sadzili, merupakan tokoh Thoriqoh Sadziliyah
yang tidak meninggalkan karya tulis di bidang tasawuf, begitu juga muridnya,
Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya ajaran lisan tasawuf, Doa, dan hizib. Ketika
ditanya akan hal itu, ia menegaskan :”karyaku adalah murid muridku”, Asadzili
mempunyai murid yang amat banyak dan kebanyakan mereka adalah ulama ulama
masyhur pada zamannya, dan bahkan dikenal dan dibaca karya tulisnya hingga hari
ini. Ibn Atha’illah as-Sukandari adalah orang yang pertama menghimpun
ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga kasanah
Thoriqoh Sadziliyah tetap terpelihara. Ibn Atha’illah juga orang yang pertama
kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan Thoriqoh Sadziliah,
pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, yang menjadi rujukan bagi angkatan-angkatan
setelahnya. Sebagai ajaran, Thoriqoh ini dipengaruhi oleh al-Ghazali dan
al-Makki. Salah satu perkataan as-Sadzili kepada murid-muridnya: “Jika kalian
mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid
al-Ghazali”. Perkataan yang lainnya: “Kitab Ihya’ Ulum ad-Din, karya
al-Ghozali, mewarisi anda ilmu. Sementara Qut al-Qulub, karya al-Makki,
mewarisi anda cahaya.” Selain kedua kitab tersebut, al-Muhasibi, Khatam
al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya
An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi ‘Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi,
Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atah’illah. Thoriqoh Sadzaliah berkembang pesat
di Jawa, tercatat Ponpes Mangkuyudan Solo, Kyai Umar , Simbah Kyai Dalhar
Watucongol, Simbah Kyai Abdul malik Kedongparo Purwokerto, KH Muhaiminan
Parakan, KH. Abdul Jalil Tulung Agung. KH . Habib Lutfi Bin Yahya, Pekalongan
.Simbah KH.M.Idris, kacangan Boyolali, adalah pemuka pemuka Sadzaliah yang
telah membaiat dan membina ratusan ribu bahkan jutaan murid Sadziliah.
Thoriqoh Qodiriyah dinisbahkan kepada Syekh Abdul Qodir
Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul
Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077 M
dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah
meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Riwayat hidup dan
keutamaan akhlak (Manaqib) Syech Abdul Qodir Jaelani ini, dikenal luas oleh
masarakat Indonesia khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan dibaca dalam
acara-acara tertentu guna tabarruk dan tawassul kepada Syekh Abdul Qodir.
Thoriqoh Qodiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti
oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia.
Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, Thoriqoh ini baru terkenal di
dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya baru berkembang setelah Muhammad
Ghawsh (w 1517 M) juga mengaku keturunan Syekh Abdul Qodir Jaelani. Di Turki
oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan
di Makkah, Thoriqoh Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M. Thoriqoh
Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syekh,
maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti Thoriqoh
gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi Thoriqoh yang lain ke dalam
Thoriqohnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Syekh Abdul Qadir Jaelani
sendiri,”Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri
sebagai syekh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.” Seperti
halnya Thoriqoh di Timur Tengah. Sejarah Thoriqoh Qodiriyah di Indonesia juga
berasal dari Makkah al-Mukarromah. Thoriqoh Qodiriyah menyebar ke Indonesia
pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan
Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah,
Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syekh
Abdul Karim dari Banten adalah murid kesayangan Syekh Khatib Sambas yang
bermukim di Makkah, merupakan ulama paling berjasa dalam penyebaran Thoriqoh
Qodiriyah. Murid-murid Syekh Sambas yang berasal dari Jawa dan Madura, setelah
pulang ke Indonesia menjadi penyebar Thoriqoh Qodiriyah tersebut.
Di Jawa Tengah Thoriqoh Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah
muncul dan berkembang antara lain dari Mbah Ibrahim Brumbung Mranggen
diturunkan kepada antara lain KH. Muslih pendiri Ponpes Futuhiyyah ,Mranggen.
Dari Kyai Muslih ini lahir murid-murid Thoriqoh yang banyak. Dan dari tangan
mereka berkembang menjadi ratusan ribu pengikut. Demikian pula halnya Simbah
Kyai Siradj Solo yang mengembangkan Thoriqoh ini ke berbagai tempat melalui
anak muridnya yang tersebar ke pelosok Jawa Tengah hingga mencapai puluhan ribu
pengikut. Sementara di Jawa Timur, Thoriqoh ini dikembangkan oleh KH. Musta’in
Romli Rejoso Jombang dan Simbah Kyai Utsman yang kemudian dilanjutnya
putra-putranya diantaranya KH. Asrori yang juga mempunyai murid ratusan ribu.
Di Jawa Barat tepatnya di Ponpes Suryalaya Tasikmalaya juga turut andil
membesarkan Thoriqoh ini sejak mulai zaman Abah Sepuh hingga Abah Anom dan
murid-muridnya yang tersebar di berbagai penjuru Jawa Barat.
Thoriqoh Alawiyyah
berbeda dengan Thoriqoh sufi lain pada umumnya. Perbedaan itu, misalnya,
terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadlah (olah ruhani)
yang berat, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid
serta dzikir ringan. Sehingga wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah
dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada
dua wirid yang diajarkannya, yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad.serta
beberapa ratib lainnya seperti Ratib Al Attas dan Alaydrus juga dapat
dikatakan, bahwa Thoriqoh ini merupakan jalan tengah antara Thoriqoh
Syadziliyah (yang menekankan olah hati) dan batiniah) dan Thoriqoh
Al-Ghazaliyah (yang menekankan olah fisik). Thoriqoh ini berasal dari
Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti
Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Thoriqoh ini didirikan
oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir–lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin
Ahmad al-Muhajir—seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat. Al Imam Faqihil
Muqaddam Muhammad bin Ali Baalwi, juga merupakan tokoh kunci Thoriqoh ini.
Dalam perkembangannya kemudian, Thoriqoh Alawiyyah dikenal juga dengan Thoriqoh Haddadiyah,
yang dinisbatkan kepada Habib Abdullah al-Haddad, Attasiyah yang dinisbatkan
kepada Habib Umar bin Abdulrahman Al Attas, serta Idrusiyah yang dinisbatkan
kepada Habib Abdullah bin Abi Bakar Alaydrus, selaku generasi penerusnya.
Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad
al-Muhajir. Thoriqoh Alawiyyah, secara umum, adalah Thoriqoh yang dikaitkan
dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah atau kaum sayyid –
keturunan Nabi Muhammad SAW–yang merupakan lapisan paling atas dalam strata
masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal Thoriqoh ini didirikan,
pengikut Thoriqoh Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid di Hadhramaut, atau Ba
Alawi.Thoriqoh ini dikenal pula sebagai Toriqotul abak wal ajdad, karena mata
rantai silisilahnya turun temurun dari kakek,ayah, ke anak anak mereka, dan
setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari
non-Hadhrami. Di Purworejo dan sekitarnya Thoriqoh ini berkembang pesat,
diikuti bukan hanya oleh para saadah melainkan juga masarakat non saadah ,
Sayid Dahlan Baabud, tercatat sebagai pengembang Thoriqoh ini, yang sekarang
dilanjutkan oleh anak cucunya.
Umumnya, nama sebuah Thoriqoh diambil dari nama sang pendiri
Thoriqoh bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau
Naqsyabandiyah dari Baha Uddin Naqsyaband. Tapi Thoriqoh Khalwatiyah justru
diambil dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya
nama ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati (w. 717 H), pendiri
Thoriqoh Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi. Secara
“nasabiyah”, Thoriqoh Khalwatiyah merupakan cabang dari Thoriqoh Az-Zahidiyah,
cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah,
yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi
(539-632 H). Thoriqoh Khalwatiyah berkembang secara luas di Mesir. Ia dibawa
oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri
as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal Damaskus, Syiria. Ia mengambil Thoriqoh
tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin
al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan Thoriqoh ini di Mesir, tak heran jika
Musthafa al-Bakri dianggap sebagai pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya.
Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya
sastra sufistik. Diantara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat
Al-Ahzan (Pelipur Duka).
Thoriqoh Syattariyah
adalah aliran Thoriqoh yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15.
Thoriqoh ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa
mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar. Awalnya Thoriqoh ini lebih dikenal di
Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah
Turki Usmani, Thoriqoh ini disebut Bistamiyah. Kedua nama ini diturunkan dari
nama Abu Yazid al-Isyqi, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi
dalam perkembangan selanjutnya Thoriqoh Syattariyah tidak menganggap dirinya
sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Thoriqoh ini dianggap sebagai
suatu Thoriqoh tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri
dalam keyakinan dan praktik. Perkembangan mistik Thoriqoh ini ditujukan untuk
mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di
dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Penganut Thoriqoh
Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk.
Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut Thoriqoh ini adalah jalan yang
ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai
pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada
tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta
menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus
dilalui untuk mencapai tujuan Thoriqoh ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal,
qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.
Thoriqoh Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin
Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan
“Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi
eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat
ketentuan-ketentuan syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan
ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan. At-Tijani
dilahirkan pada tahun 1150/1737 di ‘Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak
umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari
ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah
menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun
1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia
kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan
intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun. Di Indonesia, Tijaniyah ditentang
keras oleh Thoriqoh-Thoriqoh lain. Gugatan keras dari kalangan ulama Thoriqoh
itu dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Thoriqoh Tijaniyah beserta
keturunannya sampai tujuh generasi akan diperlakukan secara khusus pada hari
kiamat, dan bahwa pahala yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih, sama
dengan membaca seluruh al-Quran sebanyak 1000 kali. Lebih dari itu, para
pengikut Thoriqoh Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para
guru Thoriqoh lain, Meski demikian, Thoriqoh ini terus berkembang, utamanya di
Buntet- Cirebon dan seputar Garut (Jawa Barat), dan Jati barang brebes, Sjekh
Ali Basalamah, dan kemudian dilanjutkan putranya, Sjekh Muhammad Basalamah,
adalah muqaddam Tijaniah di Jatibarang yang pengajian rutinnya, dihadiri oleh
puluhan ribu ummat Islam pengikut Tijaniah. Demikian pula Madura dan ujung
Timur pulau Jawa, tercatat juga, sebagai pusat peredarannya.
Penentangan terhadap Thoriqoh ini, mereda setelah, Jam’iyyah
Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah menetapkan keputusan, Thoriqoh ini bukanlah
Thoriqoh sesat, karena amalan-amalannya sesuai dan tidak bertentangan dengan
ajaran Islam. Keputusan itu diambil setelah para ulama ahli Thoriqoh memeriksa
wirid dan wadzifah Thoriqoh ini.
Thoriqah Sammaniyah didirikan
oleh Syekh Muhammad Samman yang bernama asli Muhammad bin Abd al-Karim
al-Samman al-Madani al-Qadiri al-Quraisyi dan lebih dikenal dengan panggilan
Samman. Beliau lahir di Madinah 1132 H/1718 M dan berasal dari keluarga suku
Quraisy. Semula ia belajar Thoriqoh Khalwatiyyah di Damaskus, lama kelamaan ia
mulai membuka pengajian yang berisi teknik dzikir, wirid dan ajaran teosofi
lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang akhirnya disebut
sebagai Thoriqoh Sammaniyah. Sehingga ada yang mengatakan bahwa Thoriqoh
Sammaniyah adalah cabang dari Khalwatiyyah. Di Indonesia, Thoriqoh ini
berkembang di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sammaniyah masuk ke Indonesia pada
penghujung abad 18 yang banyak mendapatkan pengikut karena popularitas Imam
Samman. Sehingga manaqib Syekh Samman juga sering dibaca berikut dzikir Ratib
Samman yang dibaca dengan gerakan tertentu. Di Palembang misalnya ada tiga
ulama Thoriqoh yang pernah berguru langsung pada Syekh Samman, ia adalah Syekh
Abd Shamad, Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syekh Syihabuddin dan Syekh Kemas
Muhammad bin Ahmad. Di Aceh juga terkenal apa yang disebut Ratib Samman yang
selalu dibaca sebagai dzikir (team Al Mihrab )
TOKOH
TAREKAH MU’TABARAH DI INDONESIA
KIAI HAJI NOER ALIE (Alm) TOKOH PEJUANG DARI BEKASI JAWA BARAT
Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana Pada tanggal 3 November
2006, atas nama Presiden RI (Kepres RI No. 085/TK/Tahun 2006)menganugerahkan
gelar `Pahlawan Nasional` dan `Bintang Mahaputera Adipradana` kepada Alm. Kiai
Haji Noer Alie tokoh pejuang dari Bekasi Jawa Barat, atas jasa-jasanya.
•
Pada tahun 1937 bersama Hasan Basri membentuk organisasi Persatuan
Pelajar Betawi dimana KH. Noer Alie sebagai ketuanya.
• Tahun 1945 KH. Noer Alie membentuk
Laskar Rakyat bekerja sama dengan TKR Bekasi dan Jatinegara untuk memobilisasi
pemuda dan santri ikut latihan kemiliteran di Teluk Pucung-Bekasi.
•
Setelah Agresi Militer I Belanda, KH. Noer Alie mendirikan organisasi
gerilya baru dengan nama Markas Pusat Hizbullah Sabulillah (MPHS) di Tanjung
Karekok Cikampek.
• Pada
tahun 1955, Masyumi Bekasi memperoleh suara terbanyak dalam Pemilu dimana
beliau sebagai Ketua Cabang Masyumi Bekasi oleh Masyumi Pusat sebagai salah
seorang anggota Dewan Konstituante pada bulan Desember 1956.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau
lebih dikenal dengan julukan HAMKA,
yakni singkatan namanya, (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera
Barat, 17 Februari 1908 – meninggal
di Jakarta,
24 Juli
1981 pada umur 73 tahun)
adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.
Belakangan
ia diberikan sebutan Buya, yaitu
panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya
dalam bahasa Arab,
yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya
adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang
merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada
tahun 1906.
Rifa'iyah
adalah sebuah Organisasi para santri K.H. Ahmad Rifa'i Desa Kalisalak Kecamatan Limpung - Batang - Jawa Tengah Indonesia.
Untuk lebih mengenal tentang Rifaiyah disini saya paparkan mengenai tokoh utama
Rifa'iyah yaitu Kyai Haji Ahmad Rifa'i. Saya mengutip tulisan ini dari buku
karangan H. Ahmad Syadirin Amin yang berjudul "Pemikiran Kiai Haji Ahmad Rifai Tentang Rukun Islam Satu"terbitan
Jama'ah Masjid Baiturrahman Jakarta Pusat Tahun 1994/1415
H dengan harapan akan membantu anda mengenal siapa Kiai Haji Ahmad Rifai
sehingga diketahui asal muasal Rifa'iyah. Sebelumnya Sebagai Tradisi K.H.Ahmad
Rifa'i yang harus saya lestarikan adalah beliau selalu mengawali setiap tulisan
beliau dengan bacaan Bismillah dan Hamdallah dan Solawat , setelah membaca
Bismillah dan Hamdallah serta solawat maka mari Kita mulai membaca uraian
dibawah ini.
MAKALAH TAREKAT MU’TABARAH DAN TOKOH-TOKOHNYA
4/
5
Oleh
Adrian Printing
