Bab 1
Pendahuluan
A. Latar
Belakang Masalah
Proses
belajar siswa perlu adanya motivasi yang dapat dijadikan pendorong terhadap
daya serap siswa, sebab siswa diharapkan
apat menyerap materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum,
agar dapat meningkatkan prestasi belajar. Dari prestasi belajar, guru dapat
mengetahui kedudukan siswa yang pandai, sedang, atau kurang. Hal ini dirasa
penting oleh karena rendahnya prestasi siswa dapat disebabkan oleh berbagai
hal, antara lain ketidakpuasan terhadap prestasi yang diperoleh dan kurangnya
rangsangan baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa. Dengan demikian
pelajaran apapun yang diberikan oleh guru, hendaknya guru memotivasi siswanya
dalam belajar yang efektif.
Media Lembar
Kerja Siswa (LKS) dan buku cetak dapat digunakan untuk meningkatkan efektifitas
belajar siswa, kegiatan belajar mengajar di sekolah.
B. Rumusan masalah
a) Mengetahui
tingkat pembelajaran siswa menggunakan
lks.
b) Mengetahui
tingkat pembelajaran siswa menggunakan
buku cetak.
C. Kesimpilan
Menyimpulkan
hasil pembelajaran dari kedu buku tersebut.
BAB II
PENDIDIKAN EKONOMI SMA
1.PEMBELAJARAN
A.
Pendahuluan
Seorang
guru ekonomi selain harus menguasai materi bidang studi ekonomi (kemampuan
akademis), juga harus memiliki keterampilan profesi sebagai pendidik (kemampuan
profesi). Kedua hal ini merupakan keharusan agar ia menjadi guru yang
profesional, sehingga dalam setiap pembelajaran yang dilakukannya efektif dan
optimal. Apalagi diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
menuntut guru kreatif dan inovatif menciptakan kondisi yang kondusif sehingga
peserta didik dapat mengembangkan kreativitasnya. Guru yang diharapkan adalah
guru yang menguasai dan memahami materi pelajaran , menyukai materi ajar yang
menjadi tugasnya dan menyukai pekerjaan mengajar sebagai suatu profesi,
memahami peserta didik, selalu mengikuti perkembangan pengetahuan mutakhir,
selalu mempersiapkan proses pembelajaran, serta mendorong peserta didiknya
untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Gagne
dan Ausubel (Hidayanto, 2001 : 1-2) mengatakan bahwa guru bertugas mengalihkan
seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan sehingga pengetahuan itu menjadi
bagian dari sistem pengetahuan siswa. Sejalan dengan itu pula, Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menegaskan bahwa kedudukan guru dalam kegiatan
belajar mengajar sangat strategis dan menentukan. Strategis karena guru sebagai
bagian dari pengembang kurikulum akan menentukan kedalaman dan keluasan materi
pelajaran, gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan
kepada peserta didik. Salah satu faktor yang mempengaruhi guru dalam upaya
memperluas dan memperdalam materi ialah rancangan pembelajaran yang efektif,
efisien, menarik, dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dan
dicapai oleh setiap guru.
Agar
tuntutan profesional dari seorang guru ekonomi tersebut tercapai, maka guru
ekonomi harus memahami pula mengenai landasan-landasan filosofi pembelajaran
ekonomi, konsep pembaharuan pembelajaran ekonomi serta prinsip-prinsip dalam
pembelajaran ekonomi. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar ini, Anda akan
diajak untuk memahami mendalami ketiga hal tersebut.
B.
Landasan Filosofi Pembelajaran Ekonomi.
Pada
dasarnya profesionalisme seorang guru menyangkut dua hal, yaitu profesi yang
bersifat normatif dan profesi yang bersifat aplikatif. Profesi yang berifat
normatif diantaranya adalah jujur, tekun, loyal, penuh dedikasi dan memiliki
toleransi. Sedangkan profesi yang bersifat aplikatif yaitu melakukan kerja
sesuai dengan job deskripsi yang telah ditentukan, melaksanakan kewajiban dan
kewenangan yang dimilikinya. Dengan demikian seorang guru ekonomi yang
profesional dapat melaksanakan pembelajaran ekonomi di kelas dengan baik,
seperti menguasai materi pembelajaran ekonomi, mampu menyajikannya dengan baik
serta mampu melaksanakan evaluasi pembelajaran ekonomi dengan baik pula.
Penelitian
yang dilakukan oleh Suyanto tahun 1999 mengungkapkan bahwa dalam Pembelajaran
Pendidikan Ekonomi di SLTP ditemukan ada beberapa permasalahan, yaitu :
1.
Masih ada guru yang mengeluh dalam mengajar ekonomi di sekolah karena mereka
memandang bahwa pelajaran ekonomi kurang menarik dan membosankan bagi siswa
yang diajarnya
2.
Mitos siswa bahwa guru ekonomi kurang berwibawa jika dibandingkan dengan guru
matematika, IPA maupun bahasa Inggris, karena menurut siswa pelajaran ekonomi
kurang mendukung untuk melanjutkan ke SMU bagian IPA sehingga dirasakan kurang
penting
3.
Pelajaran ekonomi dianggap sukar oleh siswa sehingga akibat kurang adanya
kepastian empiris yang mudah dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari
Agar
permasalahan di atas tidak menjadi penghambat bagi guru ekonomi dalam
melaksanakan tugas pembelajarnnya, maka seorang guru ekonomi harus memahami
landasan-landasan filosofi pembelajaran ekonomi, yang antara lain terdiri dari:
1)
Landasan filosofi akademik
2)
Landasan filosofi kependidikan
3)
Landasan filosofi sosial budaya.
1.1 Landasan Filosofi Akademik
Untuk
dapat memahami landasan ini, coba Anda perhatikan ilsutrasi berikut: Seorang
guru ekonomi di suatu sekolah menengah atas akan mengajarkan materi tentang
koperasi sekolah. Guru tersebut memiliki pengalaman mengajar bidang ekonomi
selama 5 tahun. Pada saat akan mengajarkan materi tersebut, guru tersebut tidak
melakukan persiapan apapun, termasuk memahami karakteristik koperasi sekolah
serta peraturan pemerintah tentang koperasi sekolah, padahal guru tersebut
belum pernah menjadi anggota koperasi. Apa yang terjadi di kelas ?
Secara
teori guru tersebut dapat mengajarkan materi mengenai koperasi sekolah, karena
dari buku pegangan atau buku sumber materi tersebut cukup lengkap. Dengan kata
lain guru tersebut hanya mengajar secara teks book. Padahal materi tentang
koperasi sekolah selain memerlukan kajian konsep, juga yang utama adalah
bersifat aplikatif artinya lebih banyak aspek afektif dan psikomotornya
daripada aspek kognitif. Agar materi tersampaikan dengan baik, tentu diperlukan
metoda mengajar untuk penguasaan kedua aspek tersebut, tidak hanya dengan
metoda ceramah. Dengan kondisi yang demikian tentu saja indikator yang akan
dicapai dari pembelajaran koperasi sekolah tersebut menjadi tidak tercapai, hal
ini menggambarkan bahwa pembelajaran tidak berjalan optimal dan efektif.
Oleh
karena itu agar setiap pekerjaan/kegiatan bisa optimal dan efektif termasuk
pula kegiatan pembelajaran ekonomi, maka perlu dilakukan perencanaan.
Perencanaan merupakan salah satu prinsip manajemen., yang menjadi landasan bagi
prinsip-prinsip lainnya. Dengan berkeyakinan bahwa setiap pekerjaan yang didasari
pada perencanaan (apalagi secara matang) akan memberikan hasil yang maksimal,
maka dalam setiap pembelajaran ekonomi harus dibuat perencanaan pembelajaran.
Harus dipahami bahwa perencanaan pembelajaran merupakan ”usaha sinkronisasi
antara komponen pengajaran dengan kelengkapan sarana dan karakteristik siswa”.
Dalam perencanaan pembelajaran ini terkandung aspek psikologis, aspek
pedagogis, aspek manajerial dan aspek kontinuitas.
a)
Aspek Psikologis: Seorang guru yang terampil membuat perencanaan pembelajaran
dan setia membuatnya akan memiliki rasa percaya diri dan keberanian.
b)
Aspek pedagogis: Perencanaan pembelajaran akan mendidik guru untuk disiplin dan
berusaha untuk meningkatkan wawasan pengetahuan.
c)
Aspek manajerial: Dengan perencanaan pembelajaran apa yang akan dilaksanakan
menjadi terarah, sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
d)
Aspek kontinuitas: Dengan perencanaan pembelajaran akan menjamin adanya
kesinambungan, baik dalam kelancaran kegiatan belajar mengajar maupun dalam
metari pembelajaran.
2.1 Landasan Filosofi Kependidikan
Landasan
filosofi kependidikan sangat terkait dangan tujuan pendidikan baik dalam skala
yang sempit (tujuan pembelajaran, tujuan bidang studi dan tujuan institusional)
maupun skala yang lebih luas (tujuan pendidikan nasional). Secara umum
pendidikan adalah proses perubahan dari yang semula tidak mampu menjadi mampu,
dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak
mengerti menjadi mengerti dan sebagainya.
Agar
perubahan dari tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu dan tidak mengerti menjadi
mampu, bisa, tahu dan mengerti dalam setiap pembelajaran ekonomi tersebut dapat
tercapai maka diperlukan usaha yang terarah, dalam hal ini diperlukan adanya
perencanaan pembelajaran ekonomi. Seorang guru jangan punya anggapan bahwa anak
didik telah memiliki pengetahuan mengenai materi ajar yang disampaikannya.
Disinilah tugas guru untuk menjelaskan kepada siswa, sehingga kemampuan yang
diharapkan dari pembelajaran yang dilakukannya tercapai.
Dari
uraian di atas, maka landasan filosofi pembelajaran ekonomi menekankan kepada
satiap guru ekonomi untuk memahami makna dari tujuan pendidikan secara umum
maupun secara khusus (tujuan peembelajaran ekonomi). Dengan tahu apa yang akan
dicapai dari setiap kegiatan pembelajarannya, maka guru akan dapat menciptakan
kegiatan belajar yang optimal dengan menggunakan pendekatan dan metoda
pembelajaran yang tepat, penggunaan media pembelajaran yang tepat dan alat
evaluasi yang tepat pula. Dengan demikian maka diharapkan kegiatan pembelajaran
ekonomi menjadi efektif, sehingga tujuan pendidikan dan pembelajaran ekonomi
yang diharapkan dapat tercapai.
Contoh:
Seorang
guru ekonomi di SMA akan mengajarkan mengenai materi Kelangkaan, Biaya Peluang,
Pilihan dan Pengalokasian Sumber Daya dan Barang.
Untuk
ini maka guru harus paham dulu tujuan pembelajarannya, yaitu dengan indikator
siswa dapat:
a)
Mendeskripsikan pengertian kelangkaan sumber daya.
b)
Membedakan pengertian biaya sehari-hari dengan biaya peluang
c)
Mengidentifikasi pengalokasian sumber daya yang mendatangkan manfaat bagi
banyak orang.
d)
Bersikap rasional dalam menyikapi berbagai pilihan.
Bila
dianalisis keempat indikator tujuan pembelajaran di atas, maka tujuan yang akan
dicapai tersebut terdiri dari aspek kognitif, afektif dan juga psikomotor.
Dengan mengetahui hal ini maka guru tersebut tidaklah tepat kalau mengajar
hanya dengan menggunakan metoda ceramah saja, melainkan harus melengkapinya
dengan metoda lain, seperti metoda diskusi (siswa mendiskusikan tentang
kelangkaan atau tentang manfaat pengalokasian sumber daya) dan pemberian tugas
(misalnya melakukan pengamatan di masyarakat lingkungannya) dengan dilengkapi
pedoman pengamatan. Begitupun dengan media pembelajaran, dapat digunakan alat
peraga berupa flow chart yang menggambarkan berbagai benda yang langka atau
proses terjadinya kelangkaan, tabel tentang perhitungan biaya peluang dan biaya
sehari-hari, dan sebagainya. Sedangkan alat evaluasi dapat digunakan lembar
tugas pengamatan, tanya jawab (post test), proses diskusi dan sebagainya.
Dengan
melakukan analisis setiap materi baik bahan maupun tujuannya, maka guru ekonomi
tidak akan mengalami kesulitan dalam melakukan pembelajarannya sehingga tujuan
pendidikan dan tujuan pembelajaran akan tercapai. Dalam contoh di atas anak
didik yang semula tidak mengerti mengenai kelangkaan menjadi mengerti, menjadi
tahu dan terampil cara menghitung biaya peluang dan biaya sehari-hari, menjadi
bersikap hemat dan sebagainya.
BAB
III
ISI
A. Pengertian Lembar
Kerja Siswa (LKS)
Menurut Dhari dan
Haryono (1988) yang dimaksud dengan lembar kerja siswa adalah lembaran yang
berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang terprogram. Setiap LKS
berisikan antara lain: uraian singkat materi, tujuan kegiatan, alat/ bahan yang
diperlukan dalam kegiatan, langkah kerja pertanyaan – pertanyaan untuk
didiskusikan, kesimpulan hasil diskusi, dan latihan ulangan.
Jadi, Lembar Kerja
Siswa ( LKS) bisa diartikan lembaran-lembaran yang digunakan peserta didik
sebagai pedoman dalam proses pembelajaran, serta berisi tugas yang dikerjakan
oleh siswa baik berupa soal maupun kegiatan yang akan dilakukan peserta didik.
Prinsipnya lembar kerja siswa adalah tidak dinilai sebagai dasar perhitungan
rapor, tetapi hanya diberi penguat bagi yang berhasil menyelesaikan tugasnya
serta diberi bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan. Mengandung
permasalahan (problem solving) sehingga siswa dapat mengembangkan pola pikir
mereka dengan memecahkan permasalahan tersebut. Lembar kerja siswa merupakan bahan
pembelajaran cetak yang yang paling sederhana karena komponen isinya bukan pada
materi ajar tetapi pada pengembangan soal-soalnya serta latihan. LKS sangat
baik dipergunakan dalam rangka strategi heuristik maupun ekspositorik. Dalam
strategi heuristik LKS dipakai dalam metode penemuan terbimbing, sedangkan
dalam strategi ekspositorik LKS dipakai untuk memberikan latihan pengembangan..
Selain itu LKS sebagai penunjang untuk meningkatkan aktifitas siswa dalam
proses belajar dapat mengoptimalkan hasil belajar.
Peran LKS dalam proses
pembelajaran adalah sebagai alat untuk memberikan pengetahuan, sikap dan
ketrampilan pada siswa. Penggunaan LKS memungkinkan guru mengajar lebih
optimal, memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan, memberi
penguatan, serta melatih siswa memecahkan masalah. (Dhari dan Haryono, 1988)
Adapun bagi siswa
penggunaan LKS menurut Dhari dan Haryono (1988) bermanfaat untuk:
1. Meningkatkan aktifitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
1. Meningkatkan aktifitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
2. Melatih dan mengembangkan
ketrampilan proses pada siswa sebagai dasar penerapan ilmu pengetahuan.
3. Membantu memperoleh
catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan tersebut.
4. membantu menambah
informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar siswa secara
sistematis.
Hal yang perlu
diperhatikan dalam mengembangkan bahan pembelajaran cetak terutama lembar kerja
siswa adalahpada pengembangan GBPP bahan ajar cetak yang telah dikembangkan
sebelumnya, terutama pada analisis kompetensi sampai pada insikator
ketercapaiannya. Pengembangan indikator dalam GBPP haruslah benar-benar
mewakili standart kompetensi dan kompetensi dasarnya,karena nantinya indikator
ini yang akan dijadikan panduan dalam membuat soal. Materi yang ada di dalam
lembar kerja siswa merupakan hanya sebuah ringkasan saja tetapi sudah
mencangkup tentang apa yang akan dimengerti oleh siswa.
Latihan dan soal-soal
yang dikembangkan harus menggunakan berbagai bentuk dan teknik yang beraneka
ragam sehingga tidak membosankan. Harus dicantumkan pula bagaimana
langkah-langkah pengerjaanya jika soal tersebut berbentuk esai ataupun
penugasan. Macam- macam lembar kerja siswa dibagi menjadi dua yaitu LKS terbuka
dan LKS tertutup.
a) LKS tertutup,
lembaran kegiatan siswa yang digunakan dalam pembelajaran di kelas secara
teratur dan sistematis. Contohnya, biasanya setelah guru menyampaikan materi
maka siswa diberikan lembar kerja yang harus diselesaikan oleh peserta didik,
guru bisa menggunakan lembar kerja siswa tertutup ini
b) LKS terbuka, yaitu
lembar kegiatan siswa yang di dalamnya tidak terikat dengan aturan-aturan.
Jadi, siswa disuruh menyelesaikan masalah yang ada di dalam LKS ini dengan
caranya sendiri beserta dengan petunjuk guru.
Komponen- komponen LKS
sebagai berikut :
1) Kata pengantar
2) Daftar isi
3) Pendahuluan ( berisi
analisis / daftar dari tujuan pembelajaran dan indikator ketercapaian
berdasarkan hasil analisis dari GBPP)
4) Bab 1 berisi tentang
ringkasan materi/penekanan materi dari pokok bahasan tersebut.
5) Lembar kerja : berisi
berbagai soal ataupun penugasan yang akan dikerjakan oleh siswa
6) Bab 2 berisi tentang
ringkasan materi/penekanan materi dari pokok bahasan tersebut.
7) Lembar kerja dst.
8) Daftar pustaka
B. Manfaat dan Fungsi
Lembar Kerja Siswa ( LKS )
Peran LKS sangat besar
dalam proses pembelajaran karena dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam
belajar dan penggunaannya dalam pembelajaran geografi dapat membantu guru untuk
mengarahkan siswanya menemukan konsep-konsep melalui aktifitasnya sendiri.
Disamping itu LKS juga dapat mengembangkan ketrampilan proses, meningkatkan
aktifitas siswa dan dapat mengoptimalkan hasil belajar. Manfaat secara umum
adalah sebagai berikut :
a) Membantu guru dalam
menyusun rencana pembelajaran
b) Mengaktifkan peserta
didik dalam proses belajar mengajar
c) Sebagai pedoman guru
dan peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari
melalui kegiatan belajar secara sistimatis
d) Membantu peserta
didik memperoleh catatan tentang materi yang akan dipelajari melalui kegiatan
belajar
e) Membantu peserta
didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan
belajar secara sistematis.
f) Melatih peserta
didik untuk menemukan dan mengembangka keterampilan proses, dan
g) Mengaktifkan peserta
didik dalam mengembangkan konsep
Adapun manfaat secara
khusus sebagai berikut :
a) Untuk tujuan latihan
Siswa diberikan
serangkaian tugas/aktivitas latihan. Lembar kerja seperti ini sering digunakan
untuk memotivasi siswa ketika sedang melakukan tugas latihan.
b) Untuk menerangkan
penerapan (aplikasi)
Siswa dibimbing untuk
menuju suatu metode penyelesaian soal dengan kerangka penyelesaian dari
serangkaian soal-soal tertentu. Hal ini bermanfaat ketika kita menerangkan
penyelesaian soal aplikasi yang memerlukan banyak langkah. Lembaran kerja ini
dapat digunakan sebagai pilihan lain dari metode tanya jawab, dimana siswa
dapat memeriksa sendiri jawaban pertanyaan itu.
c) Untuk kegiatan
penelitian
Siswa ditugaskan untuk
mengumpulkan data tertentu, kemudian menganalisis data
tersebut. Misalnya
dalam penelitian statistika.
d) Untuk penemuan
Dalam lembaran kerja
ini siswa dibimbing untuk menyelidiki suatu keadaan tertentu, agar menemukan
pola dari situasi itu dan kemudian menggunakan bentuk umum untuk membuat suatu
perkiraan. Hasilnya dapat diperiksa dengan observasi dari contoh yang
sederhana.
e) Untuk penelitian hal
yang bersifat terbuka
Penggunaan lembaran
kerja siswa ini mengikutsertakan sejumlah siswa dalam penelitian dalam suatu
bidang tertentu.
Fungsi Lembar kerja
siswa ( LKS ) dalam proses belajar mengajar ada dua sudut pandang, yaitu :
a. Dari sudut pandang
peserta didik, fungsi LKS sebagai sarana belajar baik di kelas, di ruang
praktek, maupun di luar kelas. Sehingga siswa berpeluang besar untuk
mengambangkan kemampuan, menerapkan pengetahuan, melatih ketrampilan, memproses
sendiri dengan bimbingan guru untuk mendapat perolehannya.
b. Dari sudut pandang
guru, melalui lembar kerja siswa dalam menyelenggarakan kegiatan belajar
mengajar sudah menerapkan metode membelajarkan siswa, dengan kadar keaktifan
peserta didik yang tinggi. LKS merupana salah satu dari sekian banyak media
yang digunakan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dalam pengajaran mata
pelajaran, media LKS banyak digunakan untuk memancing aktivitas belajar siswa.
Karena dengan LKS siswa akan merasa diberi tanggung jawab moril untuk
menyelesaikan suatu tugas dan merasa harus mengerjakannya, terlebih lagi
apabila guru memberikan perhatian penuh terhadap hasil pekerjaan siswa dalam
LKS tersebut. Guru tidak memberi jawaban akan tetapi siswa diharapkan dapat
menyelesaikan dan memecahkan masalah yang ada dalam LKS tersebut dengan
bimbingan atau petunjuk dari guru.
C. Karakteristik Lembar
Kerja Siswa (LKS)
1. LKS memiliki
soal-soal yang harus dikerjakan siswa, dan kegiatan-kegitan seperti percobaan
atau terjun ke lapangan yang harus siswa lakukan.
2. Merupakan bahan ajar
cetak.
3. Materi yang
disajikan merupakan rangkuman yang tidak terlalu luas pembahasannya tetapi
sudah mencakup apa yang akan dikerjakan atau dilakukan oleh peserta didik.
4. Memiliki
komponen-komponen seperti kata pengantar, pendahuluan, daftar isi, dll.
D. Cara Pembuatan
Lembar Kerja Siswa (LKS)
Dalam pembuatan lembar
kerja siswa perlu diperhatikan beberapa syarat dan hal-hal yang penting,
diantaranya sebagai berikut.
a) Mempunyai tujuan
yang ingin dicapai berdasarkan GBPP, AMP, dan buku pegangan/paket, mengandung
proses dan kemampuan yang dilatih, serta mengutamakan bahan-bahan yang penting.
b) Tata letak harus
dapat menunjukkan urutan kegiatan secara logis dan sistematis, menunjukan
bagian-bagian yang sudah diikuti dari awal sampai akhir, serta desainnya
menarik dan indah.
c) Susunan kalimat dan
kata-kata memenuhi kriteria berikut : sederhana dan mudah dimengerti, singkat
dan jelas, istilah baru hendaknya diperkenalkan, serta informasi / penjelasan
yang panjang hendaknya dibuat dalam lembar catatan peserta didik.
d) Gambar ilustrasi dan
skema sebaiknya membantu peserta didik, menunjukkan cara, menyusun, dan
merangkai sehingga membantu anak didik berpikir kritis.
Agar lebih spesifik
lagi pembahasan tentang cara pembuatgan Lembar Kerja Siswa (LKS) maka
diklasifikasikan sebagai berikut :
a) Syarat didaktik,
Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya proses
belajar- mengajar haruslah memenuhi persyaratan didaktik, artinya suatu LKS
harus mengikuti asas belajar-mengajar yang efektif, yaitu : memperhatikan
adanya perbedaan individual, sehingga LKS yang baik itu adalah yang dapat
digunakan baik oleh siswa yang lamban, yang sedang maupun yang pandai,
menekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep sehingga LKS dapat
berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi siswa untuk mencari tahu, memiliki
variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan siswa, dapat mengembangkan
kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan estetika pada diri siswa,
pengalaman belajarnya ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi siswa
(intelektual, emosional dan sebagainya), bukan ditentukan oleh materi bahan
pelajaran.
b) Syarat konstruksi,
yang dimaksud dengan syarat konstruksi adalah syarat-syarat yang berkenaan
dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan
kejelasan yang pada hakikatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti
oleh peserta didik. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan
peserta didik, menggunakan struktur kalimat yang jelas, memiliki taat urutan pelajaran
yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik menghindari pertanyaan yang
terlalu terbuka, tidak mengacu pada buku sumber yang diluar kemampuan
keterbacaan, peserta didik menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi
keleluasaaan pada peserta didik untuk menulis maupun menggambarkan pada LKS,
menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek, lebih banyak menggunakan
ilustrasi daripada kata-kata, sehingga akan mempermudah
peserta didik dalam
menangkap apa yang diisyaratkan LKS, memiliki tujuan belajar yang jelas serta
manfaat dari pelajaran itu sebagai sumber motivasi, mempunyai identitas untuk
memudahkan administrasinya.
c) Syarat teknis, dari
segi teknis memiliki beberapa pembahasan yaitu:
1) Tulisan
Menggunakan huruf cetak
dan tidak menggunakan huruf latin atau romawi, menggunakan huruf tebal yang
agak besar, bukan huruf biasa yang diberi garis bawah, menggunakan tidak lebih
dari 10 kata dalam satu baris, menggunakan bingkai untuk membedakan kalimat
perintah dengan jawaban peserta didik, mengusahakan agar perbandingan besarnya
huruf dengan besarnya gambar serasi.
2) Gambar
Gambar yang baik untuk
LKS adalah yang dapat menyampaikan pesan/isi dari gambar tersebut secara
efektif kepada penguna LKS. Yang lebih penting adalah kejelasan isi atau pesan
dari gambar itu secara keseluruhan.
3) Penampilan
Penampilan adalah hal
yang sangat penting dalam sebuah LKS. Apabila suatu LKS ditampilkan dengan
penuh kata-kata, kemudian ada sederetan pertanyaan yang harus dijawab oleh
peserta didik, hal ini akan menimbulkan kesan jenuh sehingga membosankan atau
tidak menarik. Apabila ditampilkan dengan gambarnya saja, itu tidak mungkin
karena pesannya atau isinya tidak akan sampai. Jadi yang baik adalah LKS yang
memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan.
Uraian di atas
merupakan syarat khusus pembuatan lembar kerja siswa, jika sudah terpenuhi maka
melangkah pada syarat umum yang harus dipenuhi untuk membuat LKS
1. Melakukan analisis
kurikulum baik SK,KD, indikator, maupun materi pokok.
2. Menyusun peta
kebutuhan lembar kerja siswa yaitu pembuatan LKS harus membuat suatu
konsep/rancangan terlebih dahulu guna mengetahui materi/komponen perihal yang
akan dibahas di dalam LKS tersebut,sehingga akan lebih mudah dalam
pelaksanaannya.
3. Menentukan judul LKS
dan menulis LKS dengan buku paduan yang jelas.
4. Mencetak lembar
kerja siswa dan menentukan lembar penilaian.
E. Kelebihan dan
Kekurangan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Cara Mengatasi Kekurangannya
Kelebihan Lembar Kerja
Siswa (LKS)
1. Guru dapat
menggunakan lembar kerja siswa sebagai media pembelajaran mandiri bagi peserta
didik.
2. Meningkatkan
aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
3. Praktis dan harga
cenderung terjangkau tidak terlalu mahal.
4. Materi didalam LKS
lebih ringkas dan sudah mencakup keseluruhan materi.
5. dapat membuat siswa
berinteraksi dengan sesame teman.
6. Kegiatan
pembelajaran menjadi beragam dengan LKS.
7. Sebagai pengganti
media lain ketika media audio visual misalnya mengalami hambatan dengan listrik
maka kegiatan pembelajaran dapat diganti dengan media LKS.
8. Tidak menggunakan
listrik sehingga bisa digunakan oleh SD di pedesaan maupun di perkotaan.
Kekurangan Lembar Kerja
Siswa (LKS)
1. Soal-soal yang
tertuang pada lembar kerja siswa cenderung monoton, bisa muncul bagian berikutnya
maupun bab setelah itu.
2. Adanya kekhawatiran
karena guru hanya mengandalkan media LKS tersebut serta memnfaatkannya untuk
kepentingan pribadi. Misalnya siswa disuruh mengerjakan LKS kemudian guru
meninggalkan siswa dan kembali untuk membahas LKS itu.
3. LKS yang dikeluarkan
penerbit cenderung kurang cocok antara konsep yang akan diajarkan dengan LKS
tersebut.
4. LKS hanya melatih
siswa untuk menjawab soal,tidak efektif tanpa ada sebuah pemahaman konsep
materi secara benar.
5. Di dalam LKS hanya
bisa menampilakan gambar diam tidak bisa bergerak, sehingga siswa terkadang
kurang dapat memahami materi dengan cepat.
6. Media cetak hanya
lebih banyak menekankan pada pelajaran yang bersifat kognitif, jarang
menekankan pada emosi dan sikap.
7. Menimbulkan pembelajaran
yang membosankan bagi siswa jika tidak dipadukan dengan media yang lain.
Cara mengatasi
kekurangan dalam penggunaan lembar kerja siswa.
1. Guru diharapkan
membuat LKS yang memiliki soal-soal yang beragam, sehingga soal-soal yang ada
tidak kebanyakan terulang-ulang.
2. Peningkatan kualitas
professional guru perlu dan juga peningkatan kesadaran seorang guru sebagai
pendidik.
3. Dsekolah sebaiknya
tidak terpaku dengan LKS yang dikeluarkan oleh penerbit tetapi diharapkan
dengan keprofesionalan guru dapat membuat lembar kerja siswa yang lebih bermutu
tinggi dari pada yang dikeluarkan penerbit.
4. Untuk menghindari
siswa yang hanya dilatih untuk mengerjakan soal sebaiknya guru mempunyai buku
pegangan selain LKS dan didalam LKS tidak hanya soal-soal yang wajib dikerjakan
oleh siswa tetapi sejumlah kegiatan-kegiatan lapang untuk peserta didik juga
perlu.
5. Guru bisa memadukan
antara media cetak dengan media-media yang menunjang, misalnya audio-visual
kalau ada.
6. Menambah kagiatan –
kegiatan yang menstimulus siswa untuk aktif baik bertanya kepada guru maupun
menjawab pertanyaan guru.
7. Untuk menghindari
kebosanan guru sebaiknya menggabung media satu dengan yang lain. Ataupun
menambah sebuah kegiatan diluar kegiatan yang ada pada LKS tersebut.
F. Implikasi Lembar
Kerja Siswa dalam Pembelajaran
Dengan adanya media
Lembar Kerja Siswa (LKS) diharapkan dapat menjadikan peserta didik aktif dan
cepat tanggap, serta kreatif. LKS dapat digunakan pada peserta didik untuk
mengamati kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Dapat pula digunakan dalam
pendekatan ketrampilan proses, dimana Siswa berlatih mengumpulkan kosep
sebanyak – banyaknya tentang materi yang akan dipelajari melalui LKS dan
kemudian didiskusikan untuk memperoleh kesimpulan mengenai definisi dan karakteristik
materi yang dipelajari.
Pemanfaatan LKS sebagai
media pembelajaran dilakukan secara optimal, yaitu digunakan sebagai sumber
perolehan informasi serta media dalam latihan soal.
Implementasi pendekatan
ketrampilan proses, dilakukan sesuai bagan desain pembelajaran dengan
pendekatan ketrampilan proses melalui media LKS. Proses pembelajaran dilakukan
dengan terlebih dahulu membagi siswa dalam kelompok kelompok. Pembelajaran
dilakukan menggunakan berbagai macam metode, yaitu metode penemuan konsep, metode
diskusi, dan metode latihan soal. Penerapan setiap metode pembelajaran tersebut
disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran pada setiap pertemuan.
D.Buku Cetak Pelajaran Sekolah
Mereka
yang memiliki uang cukup (banyak) tentu tidak akan merasa berat untuk membeli
buku-buku cetak sekolah bagi anak-anak mereka yang sedang belajar di SD, SMP,
SMA atau yang setingkat dengan itu.
Tetapi
bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang tentunya berjumlah jauh lebih banyak
daripada yang mampu, keharusan membeli buku cetak pelajaran sekolah bagi
anak-anak mereka dari waktu ke waktu pasti terasa berat. Dan keharusan membeli
buku cetak yang baru untuk tahun pelajaran yang baru itu tidak bisa dihindari
meski anak yang lebih tua hanya berbeda 1 kelas dengan sang adik, karena buku
si kakak tidak bisa diturunkan kepada adiknya, sang adik harus dibelikan buku
cetak yang baru.
Penulis
merasakan sendiri hal yang sama, buku si kakak tidak bisa digunakan oleh sang
adik, kalaupun dipaksakan akan membuat sang adik kerepotan dalam mengikuti
pelajaran, karena buku pelajaran tahun yang berbeda memiliki perbedaan yang
sedikit-sedikit disana-sini, misalnya nomor soal yang berbeda, cerita yang sama
dengan nama tokoh berbeda, soal yang sejenis dengan nilai yang dibedakan, dll.
Kalau dipaksakan, bisa jadi sang adik akan terlihat seperti anak bodoh karena
jawaban-jawaban atas soal-soal yang dibuatnya akan berbeda dengan
teman-temannya yang menggunakan buku cetak tahun terbaru. Pernah terjadi
beberapa kali buku cetak itu hilang, dan untuk itu perlu dicarikan
penggantinya, yang ternyata dicari di beberapa toko buku tidak tersedia, karena
saat itu sudah mendekati akhir kwartal pelajaran dan toko buku tidak memiliki
persediaan buku untuk kwartal berjalan dan mungkin juga mereka sedang mempersiapkan
buku-buku untuk kwartal berikutnya atau dengan kata lain, buku tahun pelajaran
yang hampir selesai tidak (banyak) tersedia, karena mereka (mungkin) sudah
fokus ke penjualan buku-buku tahun pelajaran berikutnya.
Bukankah
hal itu memang normal terjadi? Siapa yang mau menumpuk atau mencetak buku tahun
pelajaran yang sudah berjalan, kalau pada tahun berikutnya buku cetak itu tidak
dibutuhkan. Salahkah toko buku ataupun penerbit dalam hal ini? Tentu tidak bisa
disalahkan.
Dimana
letak kesalahan dalam sistem buku cetak pelajaran sekolah dengan masa pakai 1
(satu) tahun itu?
Permasalahannya,
sudah klise, buku-buku cetak yang lama hanya dirubah sedikit-sedikit di
sana-sini kemudian dicetak-ulang menjadi buku cetak tahun pelajaran tahun
berikutnya, sehingga buku si kakak yang hanya 1 kelas diatas sang adik tidak
dapat dipakai oleh sang adik di tahun ajaran berikutnya. Perubahannya hanya
sedikit-sedikit disana-sini dan tidak merupakan satu keharusan yang sangat
perlu. Perubahan itu dibuat sedemikian rupa agar tidak bisa dipakai di tahun
pelajaran berikutnya, sehingga sang adik kelas harus dibelikan buku-buku cetak
yang baru.
Nah,
itu pada keadaan masyarakat dalam keadaan aman dan damai, tetapi bagaimana bila
bencana-bencana yang saat ini terus silih berganti menimpa masyarakat di
seantero wilayah nusantara, dimana mereka yang tertimpa bencana itu kehilangan
buku-buku pelajaran mereka, baik sang guru maupun sang murid. Tentu mereka akan
sulit untuk meneruskan proses belajar-mengajar, karena tidak memiliki buku-buku
cetak pelajaran sekolah. Adakah hal ini diliput oleh media massa? Adakah para
penguasa daerah memperhatikan hal ini? Apakah kita akan biarkan hal ini terus
menghancurkan generasi penerus bangsa Indonesia!?
Silahkan
rekan-rekan redaksi merubah/mengedit tulisan saya untuk dijadikan satu bahan
renungan semua anggota masyarakat, terutama para pemimpin bangsa, mereka yang
di parlemen, yang menentukan kebijakan dan kebijaksanaan dalam proses
pendidikan dan pembangunan bangsa Indonesia.
Cobalah
dilihat kasus besar yang mungkin bisa dilihat secara nasional. Dimana banyak
terjadi bencana banjir hampir di seantero pelosok Indonesia, ada yang hanya
beberapa hari terendam banjir, ada yang seminggu dan ada yang berminggu-minggu.
Anak-anak korban banjir tidak bisa sekolah dan saat banjir surut, mereka tidak
punya buku-buku untuk melanjutkan sekolah, sekolah-sekolah yang ikut terendam
juga kehilangan buku-buku mereka. Buku-buku cetak rusak terbenam banjir.
Pertanyaannya:
Apakah mereka yang kehilangan buku-buku cetak itu dapat membeli buku-buku cetak
yang baru?
Andaikata
mereka punya uangpun akan sulit mendapatkan buku-buku cetak untuk tahun
berjalan, karena toko buku ataupun penerbit tentu tidak bersedia menumpuk
buku-buku tahun berjalan, mereka sedang memikirkan bagaimana mencetak buku
cetak yang baru dan menjualnya di tahun yang akan datang.
Bisakah
dibayangkan bagaimana para korban bencana itu meneruskan proses
belajar-mengajar mereka, para guru dan murid-murid itu? Bagaimana para guru
akan menetapkan ulangan dan ujian mereka, karena guru-gurupun kehilangan
buku-buku mereka? Jangankan memikirkan ujian nasional, ujian sekolah pun berat
dilaksanakan, karena guru dan murid kehilangan buku-buku cetak mereka. Darimana
mereka akan belajar? Darimana akan dibuatkan ulangan?
Coba
dirubah skenarionya. Anggaplah buku-buku cetak itu tidak dirubah setiap tahun,
misalkan saja sekali dibuat dapat dikatakan baku (masa pakai) untuk 10 tahun
atau 5 tahun. Setiap ada yang kehilangan buku-buku cetaknya, mereka tentu bisa
membeli yang baru di toko buku, dan toko buku tidak merasa rugi untuk menyimpan
buku-buku cetak itu, mereka akan terus memajangnya di etalase penjualan mereka
karena buku-buku itu tetap bisa dijual di tahun berikutnya dan penerbit juga
tidak akan keberatan untuk mencetak ulang buku-buku itu karena tetap dapat
dijual untuk tahun pelajaran berikutnya. Dengan strategi buku baku untuk 10
atau 5 tahun, bangsa yang sering kebanjiran ini tidak akan kesulitan
mendapatkan buku-buku cetaknya. Proses belajar-mengajar dapat terus berlangsung
walau bencana datang dan pergi.
Memang
kehilangan buku-buku cetak itu tidak dialami seluruh anak negeri, tetapi
keadaan tidak memiliki buku-buku cetak itu jelas akan mempengaruhi kualitas
keseluruhan anak negeri ini sebagai penerus bangsa. Mereka yang kehilangan akan
menghambat seluruh sistem pendidikan generasi penerus bangsa, mengancam
pembangunan sumber daya manusia Indonesia! Akankah kita pertaruhkan masa depan
bangsa dan negara Republik Indonesia hanya pada batasan pembuatan dan
penerbitan buku-buku cetak yang berbeda dan berubah di setiap tahun pelajaran?
Hanya
demi keuntungan dari penjualan buku-buku kita pertaruhkan masa depan seluruh
bangsa Indonesia!? Kejayaan bangsa Indonesia?? Hanya demi profit???
Banyak
orang pintar yang tidak akan bersedia merubah sistem pengadaan buku-buku cetak
pelajaran yang telah berjalan selama beberapa puluh tahun belakangan ini,
mereka lebih berpikir bagaimana membuat setiap orang tua harus dengan terpaksa
membeli buku-buku cetak yang baru meski anak-anak mereka duduk di kelas yang
berturutan. Bagaimana membuat buku-buku pelajaran dari tahun pelajaran yang
telah berjalan tidak dapat digunakan lagi di tahun pelajaran yang baru, dan
hanya itulah cara berpikir mereka. Mereka memang pintar dalam berbisnis, tetapi
mereka melupakan kemungkinan hilangnya buku-buku dalam berbagai keadaan bencana
yang terus datang silih berganti, keadaan yang menyebabkan sebagian anak-anak
diantara generasi penerus bangsa ini kehilangan kesempatan belajar dengan baik
karena mereka kehilangan buku-buku mereka dalam berbagai kejadian bencana
selama ini, dan mereka tidak bisa mendapatkan buku-buku cetak karena buku-buku
cetak tahun pelajaran berjalan sudah tidak ada di pasaran.
Begitulah
kalau pintar keblinger, pikiran mereka para penentu kebijakan dan kebijaksanaan
hanya sampai kepada bagaimana memaksakan sistem pengadaan buku dan penjualan
buku cetak yang baru untuk tahun pelajaran yang baru tetapi lupa akan kesadaran
akan kehidupan berbangsa dan bernegaranya, lupa akan masa depan bangsa dan negara.
Mereka hanya pintar dalam mencari keuntungan dari sistem pengadaan buku cetak,
tetapi sangat bodoh dalam melihat ketimpangan proses belajar-mengajar anak-anak
bangsa.
Adakah
jalan keluar dari berbagai kasus bencana yang terus silih berganti di seantero
nusantara Indonesia? Ada sih! Kalau para penerbit dan toko buku memang punya
sedikit kesadaran dan tanggung jawab kepada bangsa dan negara! Dimana saat
bencana menghadang, mereka serta merta menyiapkan buku-buku cetak tahun
pelajaran tahun berjalan, meski buku-buku itu tidak bisa dijual di tahun
pelajaran yang baru (pergantian tahun ajaran mungkin hanya 2 atau 3 bulan dari
kejadian bencana).
Adakah
tanggung jawab dan kesadaran untuk sedikit merugi saat sebagian masyarakat di
bagian lain Indonesia sedang menghadapi bencana?
Masalah
berikutnya: Apakah para korban bencana mampu membeli buku-buku cetak yang baru!
Kalau mereka tidak mampu??
Anggaplah
mereka masih mampu, tetapi saat itu tinggal 1 atau 2 bulan ke akhir tahun
pelajaran, mereka memang harus membeli buku-buku itu, karena diperlukan untuk
belajar menghadapi ulangan akhir tahun. Lalu buku-buku baru harus dibeli,
buku-buku yang baru dibeli harus dibuang karena tidak bisa dipakai oleh adik
kelas.
MASA
BAKU HARUS CUKUP LAMA
Sebenarnya,
yang paling baik adalah menetapkan buku-buku cetak pelajaran sekolah berlaku
untuk masa pakai 10 tahun atau 5 tahun. Kemudian buku-buku itu dimiliki oleh
pemerintah daerah setempat, dipinjamkan kepada para siswa selama tahun
pelajaran berlangsung. Setiap kekurangan buku langsung dipesan kepada toko buku
atau penerbit, dan buku-buku yang baru dibeli tidak akan kehilangan gunanya
ataupun harganya, karena tahun-tahun berikutnya akan dapat dipergunakan
seterusnya.
Kalau
bencana banjir terus datang dan datang lagi?
Mungkin
perlu dicari teknologi lain yang memiliki kemampuan ‘waterproof’ atau
‘banjirproof’, tahan direndam dalam air, sekalian saja ‘schockproof,
‘antimagnetig’, dan jangan lupa harus ‘korupsi-free’, ‘kolusi-free’, dst. Bikin
saja buku yang lembarannya menggunakan plastik tahan air, tetap jernih dan
bening walau direndam lumpur berminggu-minggu.
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan
masalah dan pembahasan-pembahasan pada makalah di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa
1. Media cetak berupa
LKS merupakan bahan pembelajaran cetak yang dikemas dengan hanya menekankan
pada latihan, tugas dan soal namun mampu memenuhi tingkat pembelajaran yang
baik,sedangkan buku cetak dilengkapi
dengan penjabaran yang lebih lemgkap namun sedikit lebih mahal.
2. Lembar kerja siswa
memiliki komponen dan karakteristiknys sesuai dengan media pembelajarannya,sedang
buku cetak memiliki karakteristik yang lebih kompleks dan keritis memiliki
penjabaran melalui beberapa aspek.
3. Implementasi
pendekatan ketrampilan proses menggunakan LKS mampu memberikan hasil belajar
yang lebih baik, terlebih lagi jika media cetak seperti LKS dipadukan dengan
media-media pembelajaran lain yang menunjang.
4. Media LKS memiliki
kelebihan dan kekurangan. Tetapi kekurangan itu dapat diatasi oleh seorang guru
meskipun tidak sepenuhnya teratasi.
5. Penerapan pendekatan
ketrampilan proses pada mata pelajaran terbukti lebih meningkatkan hasil
belajar siswa serta lebih membekali siswa dengan sejumlah ketrampilan proses
belajar, sehingga akan lebih meningkatkan aspek nilai afektif siswa selama
pembelajaran berlangsung.
Kedua media
pembelajaran di atas sama sama mempunyai kontribusi yang besar hanya saja lks
lebih mengedepankan inti dari pokok permasalahan dalam suatu pembelajaran(rangkum)namun
tidak meninggalkan kualitas pembelajaran dan lebih merakyat (mura).
Dari segi pendidikan
keduanya saling mengisi dan berperan baik bagi siswa sekolah dan pendidikan
nasional.
B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini diharapkan
dapat menjadi panduan dalam menggunakan lembar kerja siswa. Disamping itu guru
hendaknya mampu menciptakan kreatifitas dalam pembelajaran, sehingga pelajaran
akuntansi menjadi lebih menyenangkan serta mampu meningkatkan motivasi siswa
dalam belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Usman, Moh Uzer dan Lilis setyawati.
1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Sardiman. 1992. Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar. Jakarta: CV Rajawali.
Dhari, HM. dan Dharyono, AP. 1988.
Perangkat Pembelajaran. Malang: Depdikbud.
Sungkono dkk. 2009. Pengembangan Bahan
Ajar. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Siddiq, M. Djauhar, dkk. 2009.
Pengembangan Bahan Pembalajaran SD. Jakarta. Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Darliana. 1991. Metode Pembelajaran
Ketrampilan Proses. Jakarta: Depdikbud.
MAKALAH MA PENDIDIKAN EKONOMI SEKOLAH
4/
5
Oleh
Adrian Printing
