Perintah pertama yang turun dari langit adalah,”iqra” (bacalah). Membaca merupakan satu kunci tersendiri untuk menimba ilmu. Setelah kita mampu untuk membaca, kita dituntut untuk menulis sebagai sarana peningkat ilmu yang kita miliki. Kemudian, barulah mengajarkan atau berdakwah kepada masyarakat umum.
Banyak
orang menganggap remeh menulis walaupun hanya sekedar menyalin kembali. Padahal
banyak manfaat yang diraih. Orang yang enggan mengikat ilmu dengan menulis,
diumpamakan sebagai pemburu yang tidak mengikat hasil buruan dan dibiarkan
lepas begitu saja.
Imam
Nawawi mengatakan,”janganlah seseorang meremehkan suatu faidah dalam bidang apa
saja yang ia lihat atau ia dengar tetapi hendaknya ia segera menuliskanya.
Lalu, ia tekun menela’ah apa saja yang ia tuliskan.”Beliau
melanjutkan,”Janganlah seseorang menunda-nunda memperoleh faidah walaupun
sedikit. Jika ia mampu melakukanya meskipun ia merasa yakin akan mendapatkanya
kemudian.” Ini merupakan nasehat yang amat berharga dan sebuah wejangan dari
seseorang imam besar. Maka, berpegang teguhlah padanya, niscaya anda akan
beruntung.
Berapa
banyak orang pintar menyampaikan kesedihanya dan penyesalanya terhadap berbagai
faidah yang belum sempat ia tulis sehingga hal itu hilang begitu saja. Atau ia
hanya berpegang pada ingatanya (hafalanya), tetapi hafalanya ‘berkhianat’,lupa
dan hilang faidahnya itu.
Iman
bukhari yang terkenal banyak hafalanya , setiap malam berkali-kali bangun untuk
menuliskan hal-hal bermanfaat yang ia peroleh. Sorang perawi yang bernama
Al-farabi berkisah,”ketika saya berada di rumah Muhammad bin Ismail (Imam
Bukhari) pada suatu malam. Saya menghitung bahwa ia bangun dan menyalakan lampu
sebanyak 18 kali dalam semalam untuk mengingat-ingat segala yang dia tulis.
Dalam
biografi imam zarkasyi (wafat th.791 H),pengarang kitab Al Bahrul Muhith dan kitab-kitab lain, Al hafidz Ibnu Hajar
Al’asqalani menyebutkan bahwa ia berulang kali ke toko buku. Jika ke sana,
sepanjang hari ia akan menelaah beberapa kitab hasilnya dan karanganya. Selain
itu, banyak sekali ulama yang telah membukukan beberapa faidah berharga seperti
ini dalam kitab-kitab tersendiri. Misalnya, kitab Al Funun karya Ibnu Uqaik,
yang dalam hal ini merupakan kitab yang paling besar.
Manfaat Menulis
Menulis, selain
membuat kita memiliki pengikat ilmu yang kuat ternyata mempunyai beberapa
manfaat yang tidak kalah pentingnya.antara lain :
1. Mengajak
anda berpikir lebih sistematis.
Banyak
orang yang dianggap brilian, tetapi carut-marut untuk menyampaikannya kepada
orang lain atau hanya sekedar berbicara tetapi tidak dapat ditangkap isi pokok
dari pembicaraan. Maka, hal tersebut dapat diantisipasi jika kita terbiasa
dengan bahasa tulisan. Ketika kita menulis, kita memiliki kesempatan untuk
mengedit tulisan-tulisan kita kembali. Kita bisa menata pikiran yang berantakan
menjadi lebih rapi. Bisa membuang bagian-bagian yang tidak terlalu
penting,sehingga kita bisa mendapatkan hubungan sebab akibat yang logis,sistematis,tanpa
direcoki terlalu banyak bumbu yang memusingkan.
2. Mengendalikan
emosi
Apabila kita sedang sedih atau marah besar, para ahli jiwa menyarankan
agar kita sering-sering menulis untuk melatih kecerdasan emosi. Jangan mengabaikan
katarsis karena sering kali berbuntut destruktif alias kerusakan-kerusakan yang
kita ciptakan tanpa pikir panjang. Soalnya, otak kita sedang marah, yang
dominan pada otak kita adalah bagian rimitif yang sama dengan otak repitilia.
3. Berpenghasilan
lewat menulis
Bukan
hanya kecerdasan yang kita dapat dari manfaat menulis, tetapi juga penghasilan
yang cukup menarik jika kita mau menjadi penulis produktif. Gola Gong
mengatakan, seandainya kita bisa menulis lima buku saja dalam setahun, maka
kita akan bisa hidup laak. Jadi menulis ternyata bisa dijadikan sebagai profesi
yang cukup menjanjikan. Apalagi jika tulisan kita ternyata digemari orang.
Tapi, ini hanyalah manfaat tambahan yang tidak boleh dijadikan tujuan utama.
Tujuan utama haruslah ilmu dan memberi manfaat untuk mendapat pahala.
Menjadi Penulis
Mereka
yang menulis fiksi disebut pengarang dan mereka yang menulis non fiksi disebut
penulis.seorang penulis bisa menjadi pengarang,tetapi pengrang pada umumnya
sedikit yang menjadi penulis. Hambatanya,menjadi penulis perlu ditopang
refrensi yang luas dan mendalam. Apalagi bila yang bersangkutan menulis tulisan
yang bersifat akademis atau ilmiah.
Tetapi
bukan berarti bahwa menjadi seorang pengarang itu lebih mudah dibandingkan
menjadi penulis. Keduanya memiliki modal utama yaitu dorongan yang kuat untuk
menulis (the strong will to write). Bila
kita menjadi penulis atau pengarang
yntuk mencapaninya adalah menulis –do
writing, do it soon,very soon,don’t be postponed.
Sayangnya,
banyak yang ingin menjadi pengarang/penulis tetapi hanya sebatas ingin dan
tidak menulis. Alasanya sulit memulai, tidak punya waktu, takut salah, malu
atau tidak ada inspirasi/ide yang pas untuk menulis. Akhirnya,proses menulis
pun tertunda. Maka,ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar proses kreatif
menulis dapat kita gunakan dengan baik. Antara lain; konsentrasi untuk menulis,
menghimpun materi yang akan ditulis, tentukan fiksi, non fiksi, menyendiri pada
waktu menulis, sediakan ruang yang nyaman untuk bekerja, pastikan tubuh dalam
kondisi fit, serta mengkondisikan mood yang baik pada saat ingin menulis.
Mengolah Kata = Senjata
Menulis
bukan sekedar membuat kalimat, melainkan diperlukan kamampuan mengolah kata.
Kata-kata yang diolah juga bukan sembarang kata. Melainkan kata-kata yang
dipilih untuk dijadikan media tulis. Kata-kata yang ditulis ini akan membuat
tulisan baik atau buruk,menarik atau membosankan dan mudah atau sulit dipahami.
Dalam
teori kreatif menulis untuk menjadi seorang penulis / pengarang, pertama-tama
harus mampu memilih kata-kata yang akan dijadikan media tulisanya. Sebab,
ksts-ksts merupakan senjata utama bagi penulis/pengarang untuk’menaklukan
pembaca’. Agar dapat memilih dengan leluasa,maka setiap pengarang/penulis wajib
kaya atau punya koleksi kosa kata yang tak terbatas,untuk dirangkai menjadi
kalimat.
Sahabat
, pada akhirnya marilah kita menjadikan menulis sebagai sarana pengikat ilmu.
Agar ilmu yang kita miliki tidak meudah kabur begitu saja. Ilmu yang kita
sebarkan dengan niat berdakwah,maupun berbagi pengetahuan.semoga menjadi pahala
yang tersendiri baik di dunia maupun di akherat kelak maka jangan berhenti
menulis.
MENULIS
4/
5
Oleh
Adrian Printing

