Sunday, November 16, 2014

MENULIS


Perintah pertama yang turun dari langit adalah,”iqra” (bacalah). Membaca merupakan satu kunci tersendiri untuk menimba ilmu. Setelah kita mampu untuk membaca, kita dituntut untuk menulis sebagai sarana peningkat ilmu yang kita miliki. Kemudian, barulah mengajarkan atau berdakwah kepada masyarakat umum.
                Banyak orang menganggap remeh menulis walaupun hanya sekedar menyalin kembali. Padahal banyak manfaat yang diraih. Orang yang enggan mengikat ilmu dengan menulis, diumpamakan sebagai pemburu yang tidak mengikat hasil buruan dan dibiarkan lepas begitu saja.
                Imam Nawawi mengatakan,”janganlah seseorang meremehkan suatu faidah dalam bidang apa saja yang ia lihat atau ia dengar tetapi hendaknya ia segera menuliskanya. Lalu, ia tekun menela’ah apa saja yang ia tuliskan.”Beliau melanjutkan,”Janganlah seseorang menunda-nunda memperoleh faidah walaupun sedikit. Jika ia mampu melakukanya meskipun ia merasa yakin akan mendapatkanya kemudian.” Ini merupakan nasehat yang amat berharga dan sebuah wejangan dari seseorang imam besar. Maka, berpegang teguhlah padanya, niscaya anda akan beruntung.
                Berapa banyak orang pintar menyampaikan kesedihanya dan penyesalanya terhadap berbagai faidah yang belum sempat ia tulis sehingga hal itu hilang begitu saja. Atau ia hanya berpegang pada ingatanya (hafalanya), tetapi hafalanya ‘berkhianat’,lupa dan hilang faidahnya itu.
                Iman bukhari yang terkenal banyak hafalanya , setiap malam berkali-kali bangun untuk menuliskan hal-hal bermanfaat yang ia peroleh. Sorang perawi yang bernama Al-farabi berkisah,”ketika saya berada di rumah Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) pada suatu malam. Saya menghitung bahwa ia bangun dan menyalakan lampu sebanyak 18 kali dalam semalam untuk mengingat-ingat segala yang dia tulis.
                Dalam biografi imam zarkasyi (wafat th.791 H),pengarang kitab Al Bahrul Muhith dan kitab-kitab lain, Al hafidz Ibnu Hajar Al’asqalani menyebutkan bahwa ia berulang kali ke toko buku. Jika ke sana, sepanjang hari ia akan menelaah beberapa kitab hasilnya dan karanganya. Selain itu, banyak sekali ulama yang telah membukukan beberapa faidah berharga seperti ini dalam kitab-kitab tersendiri. Misalnya, kitab Al Funun karya Ibnu Uqaik, yang dalam hal ini merupakan kitab yang paling besar.
Manfaat Menulis
                Menulis, selain membuat kita memiliki pengikat ilmu yang kuat ternyata mempunyai beberapa manfaat yang tidak kalah pentingnya.antara lain :

1.       Mengajak anda berpikir lebih sistematis.
Banyak orang yang dianggap brilian, tetapi carut-marut untuk menyampaikannya kepada orang lain atau hanya sekedar berbicara tetapi tidak dapat ditangkap isi pokok dari pembicaraan. Maka, hal tersebut dapat diantisipasi jika kita terbiasa dengan bahasa tulisan. Ketika kita menulis, kita memiliki kesempatan untuk mengedit tulisan-tulisan kita kembali. Kita bisa menata pikiran yang berantakan menjadi lebih rapi. Bisa membuang bagian-bagian yang tidak terlalu penting,sehingga kita bisa mendapatkan hubungan sebab akibat yang logis,sistematis,tanpa direcoki terlalu banyak bumbu yang memusingkan.
2.       Mengendalikan emosi
Apabila kita sedang sedih atau marah besar, para ahli jiwa menyarankan agar kita sering-sering menulis untuk melatih kecerdasan emosi. Jangan mengabaikan katarsis karena sering kali berbuntut destruktif alias kerusakan-kerusakan yang kita ciptakan tanpa pikir panjang. Soalnya, otak kita sedang marah, yang dominan pada otak kita adalah bagian rimitif yang sama dengan otak repitilia.
3.       Berpenghasilan lewat menulis
Bukan hanya kecerdasan yang kita dapat dari manfaat menulis, tetapi juga penghasilan yang cukup menarik jika kita mau menjadi penulis produktif. Gola Gong mengatakan, seandainya kita bisa menulis lima buku saja dalam setahun, maka kita akan bisa hidup laak. Jadi menulis ternyata bisa dijadikan sebagai profesi yang cukup menjanjikan. Apalagi jika tulisan kita ternyata digemari orang. Tapi, ini hanyalah manfaat tambahan yang tidak boleh dijadikan tujuan utama. Tujuan utama haruslah ilmu dan memberi manfaat untuk mendapat pahala.
Menjadi Penulis
                Mereka yang menulis fiksi disebut pengarang dan mereka yang menulis non fiksi disebut penulis.seorang penulis bisa menjadi pengarang,tetapi pengrang pada umumnya sedikit yang menjadi penulis. Hambatanya,menjadi penulis perlu ditopang refrensi yang luas dan mendalam. Apalagi bila yang bersangkutan menulis tulisan yang bersifat akademis atau ilmiah.
                Tetapi bukan berarti bahwa menjadi seorang pengarang itu lebih mudah dibandingkan menjadi penulis. Keduanya memiliki modal utama yaitu dorongan yang kuat untuk menulis (the strong will to write). Bila kita menjadi penulis atau pengarang yntuk mencapaninya adalah menulis –do writing, do it soon,very soon,don’t be postponed.
                Sayangnya, banyak yang ingin menjadi pengarang/penulis tetapi hanya sebatas ingin dan tidak menulis. Alasanya sulit memulai, tidak punya waktu, takut salah, malu atau tidak ada inspirasi/ide yang pas untuk menulis. Akhirnya,proses menulis pun tertunda. Maka,ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar proses kreatif menulis dapat kita gunakan dengan baik. Antara lain; konsentrasi untuk menulis, menghimpun materi yang akan ditulis, tentukan fiksi, non fiksi, menyendiri pada waktu menulis, sediakan ruang yang nyaman untuk bekerja, pastikan tubuh dalam kondisi fit, serta mengkondisikan mood yang baik pada saat ingin menulis.

Mengolah Kata = Senjata
                Menulis bukan sekedar membuat kalimat, melainkan diperlukan kamampuan mengolah kata. Kata-kata yang diolah juga bukan sembarang kata. Melainkan kata-kata yang dipilih untuk dijadikan media tulis. Kata-kata yang ditulis ini akan membuat tulisan baik atau buruk,menarik atau membosankan dan mudah atau sulit dipahami.
                Dalam teori kreatif menulis untuk menjadi seorang penulis / pengarang, pertama-tama harus mampu memilih kata-kata yang akan dijadikan media tulisanya. Sebab, ksts-ksts merupakan senjata utama bagi penulis/pengarang untuk’menaklukan pembaca’. Agar dapat memilih dengan leluasa,maka setiap pengarang/penulis wajib kaya atau punya koleksi kosa kata yang tak terbatas,untuk dirangkai menjadi kalimat.
                Sahabat , pada akhirnya marilah kita menjadikan menulis sebagai sarana pengikat ilmu. Agar ilmu yang kita miliki tidak meudah kabur begitu saja. Ilmu yang kita sebarkan dengan niat berdakwah,maupun berbagi pengetahuan.semoga menjadi pahala yang tersendiri baik di dunia maupun di akherat kelak maka jangan berhenti menulis.

Artikel Terkait

MENULIS
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email